Selasa, 08 November 2011

pertemuan 6,7,8 Lanjutan

MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Pengertian
Masyarakat majemuk (plural society)  adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok.
Masyarakat multikultural (multicultural society) adalah masyarakat yang terdiri dari banyak kebudayaan dan antara pendukung kebudayaan saling menghargai satu sama lain. Jadi, masyarakat multikultural merupakan masyarakat yang menganut multikulturalisme, yaitu paham yang beranggapan bahwa berbagai budaya yang berbeda memiliki kedudukan yang sederajat.
Masyarakat multikulturalisme adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai kultur (budaya). Secara etimologis / asal kata dibentuk dari kata multi (banyak) dan kultur (budaya) dan isme (aliran/paham). Multikulturalisme adalah masyarakat dimana setiap manusia secara individu diakui harkat dan martabatnya yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaan masing-masing. Dalam pendidikan dikembangkan pedagogic kesetaraan (equity pedagogy) atau pendidikan kesetaraan.

Ciri-ciri masyarakat majemuk menurut Vandenberg
1.        Segmentasi (terbagi) ke dalam kelompok-kelompok
2.        Kurang mengembangkan konsensus (kesepakatan bersama)
3.        Sering mengalami konflik
4.        Integrasi sosial atas paksaan
5.        Dominasi (penguasaan) suatu kelompok atas kelompok lain, Kondisi tersebut di atas berpengaruh terhadap munculnya potensi konflik horizontal.

Keragaman karakter dan perilaku dari berbagai suku bangsa yang berada di Jakarta menggambarkan ciri kemajemukan dalam aspek  kebiasaan masyarakat.

Jenis-jenis masyarakat majemuk
1.      kompetisi seimbang
kelompok-kelompok yang ada mempunyai kekuasaan yang seimbang
2.      mayoritas dominan
kelompok terbesar mendominasi Contoh : Indonesia, umat Islam mayoritas dan memegang kekuasaan
3.      minoritas dominan
kelompok kecil yang mendominasi
4.      fragmentasi
masyarakat terdiri dari banyak kelompok yang kecil, tidak ada yang mendominasi

Faktor penyebab kemajemukan masyarakat Indonesia
1.      Kemajemukan budaya karena isolasi geografis karena bentuk wilayah.
2.      Amalgamasi
perkawinan antar ras/suku ( Amalgamasi ) menyebabkan di masyarakat Indonesia dijumpai berbagai ras campuran.
3.      Primordialisme
paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak lahir, baik mengenai tradisi, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya.
Contoh perilaku sosial primordial :
Ø  Membentuk partai politik berdasarkan paham, ideologi, atau keterikatan pada faktor-faktor seperti suku bangsa, agama, dan ras
Ø  Memberikan prioritas atau perlakuan istimewa kepada orang-orang yang berasal dari daerah, suku bangsa, agama, atau ras tertentu.
4.      Etnosentrisme : sikap yang cenderung bersifat subyektif dalam memandang budaya orang lain, memandang budaya orang lain dari kacamata budayanya.
Seorang ekstremis menganggap bahwa hanya pendapat kelompok sendirilah yang benar dan menolak pendapat dari luar kelompoknya. Dalam kehidupan multikultural, sikap ekstrem tersebut dapaty merusak upaya untuk memperkuat proses

Sebab Terjadinya Multikulturalisme
a.        Faktor geografis,faktor ini sangat mempengarudi apa dan bagaimana kebiasaan sua tu masyarakat. Maka dalam suatu daera yang memiliki kondisi geografis yang berbeda maka akan terdapat perbedaan dalam masyarakat( multikultural).
b.        Pengaruh budaya asing, mengapa budaya asing menjadi penyebab terjadinya multikultural, karena masyarakat yang sudah mengetahui budaya-budaya asing kemungkinan akan terpengaruh mind set mereka dan menjadkan perbedaan antara
c.         Kondisi iklim yang berbeda, maksudnya hampir sama denga perbedaan letak geografis suatu daerah.

Ciri-Ciri Masyarakat Multikultural
a.        Terjadi segmentasi, yaitu masyarakat yang terbentuk oleh bermacam-macam suku,ras,dll tapi masih memiliki pemisah. Yang biasanya pemisah itu adalah suatu konsep yang di sebut primordial. Contohnya, di Jakarta terdiri dari berbagai suku dan ras, baik itu suku dan ras dari daerah dalam negri maupun luar negri, dalam kenyataannya mereka memiliki segmen berupa ikatan primordial kedaerahaannya.
b.        Memilki struktur dalam lembaga yang non komplementer, maksudnya adalah dalam masyarakat majemuk suatu lembaga akam mengalami kesulitan dalam menjalankan atau mengatur masyarakatnya alias karena kurang lengkapnya persatuan tyang terpisah oleh segmen-segmen tertentu.
c.         Konsesnsus rendah, maksudnya adalah dalam kelembagaan pastinya perlu adany a suatu kebijakan dan keputusan. Keputusan berdasarkan kesepakatan bersama tulah yang dimaksud konsensus, berarti dalam suatu masyarakat majemuk sulit sekali dalam penganbilan keputusan.
d.        Relatif potensi ada konflik, dalam suatu masyarakat majemuk pastinya terdiri dari berbagai macam suku adat dankebiasaan masing-masing. Dalam teorinya semakin banyak perbedaan dalam suatu masyarakat, kemungkinan akan terjadinya konflik itu sangatlah tinggi dan proses peng-integrasianya juga susah
e.        Integrasi dapat tumbuh dengan paksaan, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, bahwa dalam masyarakat multikultural itu susah sekali terjadi pengintegrasian, maka jalan alternatifnya adalah dengan cara paksaan, walaupun dengan cara seperti ini integrasi itu tidak bertahan lama.
f.          Adanya dominasi politik terhadap kelompok lain, karena dalam masyarakat multikultural terdapat segmen-segmen yang berakibat pada ingroup fiiling tinggi maka bila suaru ras atau suku memiliki suatu kekuasaan atas masyarakat itu maka dia akan mengedapankan kepentingan suku atau rasnya.

Bentuk Masyarakat Multikultural
A.        Interseksi
Konsep Interseksi merupakan suatu titik potong atau pertemuan. Dalam sosiologi, interseksi dikenal sebagai suatu golongan etnik yang majemuk. Definisi Dalam Sosiologi, interseksi adalah persilangan atau pertemuan keanggotaan suatu kelompok sosial dari berbagai seksi. Baik berupa suku, agama, jenis kelamin, kelas sosial, dan lain-lain dalam suatu masyarakat majemuk. Suatu interseksi terbentuk melalui interaksi sosial atau pergaulan yang intensif dari anggota-anggotanya melalui sarana pergaulan dalam kebudayaan manusia, antara lain bahasa, kesenian, sarana transportasi, pasar, sekolah. Dalam memanfaatkan sarana-sarana interseksi sosial itu, anggota masyarakat dari latar belakang ras, agama, suku, jenis kelamin, tingkat ekonomi, pendidikan, atau keturunan berbeda-beda dapat bersama-sama menjadi anggota suatu kelompok sosial tertentu atau menjadi penganut agama tertentu.
B.        Konsolidasi
Konsep Suatu proses penguatan pemikiran atas kepercayaan yang telah diyakini agar kepercayaan akan sesuatu yang diyakini semakin kuat. Yang mana hal ini dilakukan oleh orang yang lebih mengerti akan kepercayaan yang dianut . Definisi Konsolidasi adalah suatu proses penguatan yang dilakukan untuk memberikan tambahan keimanan atas apa yang telah seseorang yakini, yang biasanya dilakukan oleh orang yang sudah mencapai tingkatan tertenatu. Penjelasan definisi Jadi, yang dimaksud dengan konsolidasi adalah suatu penguatan atas apa yang telah melekat pada dirinya.

Pola Relasi antar kelompok sosial menurut Calhoun Kemungkinan pola relasi antar kelompok sosial dalam masyarakat multikultural meliputi kolonialisme, pemindahan, genosida, perbudakan, segregasi, resistensi, diskriminasi, amalgamasi, asimilasi, pluralisme, multikulturalisme.
a.        Kolonialisme, adalah pengambil alihan dan penguasaan sebuah wilayah oleh kekuasaan asing dan mengisinya dengan dominasi sosial ekonomi atas masyarakat setempat (masyarakat pribumi).
b.        Pemindahan, artinya penduduk asli dipindahkan tempatnya (digusur). Ex : Australia didatangi Inggris (bukan menganggap sebagai musuh tetapi sahabat) sehingga banyak warga Inggris yang datang di Australia.
c.         Genosida adalah pembunuhan masal, ini dikenalkan oleh Rafael Ramkin, Ex : Pembantaian 6000 orang Yahudi oleh Jerman.
d.        Perbudakan, yaitu suatu sistem perhambaan yang terlembagakan, di mana sang tuan memiliki kontrol penuh / penguasaan penuh terhadap para budak.
e.        Segregasi, yaitu pemisahan kelompok ras / etnis secara paksaoleh golongan mayoritas.
f.          Resistensi, yaitu suatu strategi yang dilakukan oleh kelompok minoritas untuk menghindarkan diri dari konfrontasi yang tidak mengenakkan dengan kelompok dominan, dengan jalan melakukan segregasi sendiri.
g.        Diskriminasi, yaitu perlakuan tidak adil yang dilakukan secara sengaja terhadap kelompok-kelompok minoritas atau kelompok-kelompok lain.
h.        Amalgamasi = hibridisasi, artinya perkawinan campuran / silang.
Amalgamasi menunjuk pada hasil akhir yang diperoleh jika kelompok mayoritas dan kelompok
minoritas disatukan untuk membentuk kelompok baru melalui perkawinan
i.          Asimilasi, yaitu proses di mana seseorang / sekelompok orang meninggalkan tradisi budayanya sendiri untuk selanjutnya menjadi bagian dari kelompok budaya lain.
j.          Pluralisme, yaitu suatu keadaan di mana berbagai kelompok yang berbeda baik ras, etnik / agama saling memelihara identitas budaya dan jaringan sosial, namun mereka bersama-sama berpartisipasi dalam sistem ekonomi dan politik
k.         Multikulturalisme, inti dari multikulturalisme adalah kebijakan publik yang mendorong semua kelompok budaya masyarakat untuk bersedia menerima dan memperlakukan kelompok lain secara sederajat, tanpa memperdulikan perbedaan budaya, etnis, gender, bahasa ataupun agama.

























Mutiara
Kepekaan Sosial Adalah Sesuatu Yang Sangat mahal dan Sulit dicari Saat ini




Guru Bidang Studi
Uus Syamsul Bahri, SE

Senin, 24 Oktober 2011

pertemuan ke 6,7,8


PERTEMUAN 6,7,8

Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural

 

  1. Definisi
kelompok sosial kelompok sosial adalah kumpulan individu yang saling memiliki hubungan dan saling berinteraksi sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan dan rasa memiliki.
Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat. Kelompok juga dapat memengaruhi perilaku para anggotanya.
Menurut Sorjono Soekanto Kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan yang hidup bersama karena adanya hubungan di antara mereka secara timbal balik dan saling mempengaruhi. Menurut Hendro Puspito Kelompok sosial adalah suatu kumpulan nyata, teratur dan tetap dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara berkaitan guna mencapai tujuan bersama.
Menurut Paul B. Horton & Chaster L. Hunt Kelompok sosial adalah suatu kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi.
Menurut Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan berdasarkan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis. Bierstedt kemudian membagi kelompok menjadi empat macam:
a.      Kelompok statistik, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan.
b.      Kelompok kemasyarakatan, yaitu kelompk yang memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial di antara anggotanya.
c.       Kelompok sosial, yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan berhubungan satu dengan yang lainnya, tetapi tidak terukat dalam ikatan organisasi. Contoh: Kelompok pertemuan, kerabat.
d.      Kelompok asosiasi, yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan ada persamaan kepentingan pribadi maupun kepentingan bersama. Dalam asosiasi, para anggotanya melakukan hubungan sosial, kontak dan komunikasi, serta memiliki ikatan organisasi formal. Contoh: Negara, sekolah.
Bergabung dengan sebuah kelompok merupakan sesuatu yang murni dari diri sendiri atau juga secara kebetulan. Misalnya, seseorang terlahir dalam keluarga tertentu. Namun, ada juga yang merupakan sebuah pilihan. Dua faktor utama yang tampaknya mengarahkan pilihan tersebut adalah kedekatan dan kesamaan.

a.         Kedekatan

Pengaruh tingkat kedekatan, atau kedekatan geografis, terhadap keterlibatan seseorang dalam sebuah kelompok tidak bisa diukur. Kita membentuk kelompok bermain dengan orang-orang di sekitar kita. Kita bergabung dengan kelompok kegiatan sosial lokal. Kelompok tersusun atas individu-individu yang saling berinteraksi. Semakin dekat jarak geografis antara dua orang, semakin mungkin mereka saling melihat, berbicara, dan bersosialisasi. Singkatnya, kedekatan fisik meningkatkan peluang interaksi dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial. Jadi, kedekatan menumbuhkan interaksi, yang memainkan peranan penting terhadap terbentuknya kelompok pertemanan.

b.         Kesamaan

Pembentukan kelompok sosial tidak hanya tergantung pada kedekatan fisik, tetapi juga kesamaan di antara anggota-anggotanya. Sudah menjadi kebiasaan, orang leih suka berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kesamaan yang dimaksud adalah kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat intelejensi, atau karakter-karakter personal lain. Kesamaan juga merupakan faktor utama dalam memilih calon pasangan untuk membentuk kelompok sosial yang disebut keluarga. Perilaku kelompok, sebagaimana semua perilaku sosial, sangat dipengaruhi oleh norma-norma yang berlaku dalam kelompok itu. Sebagaimana dalam dunia sosial pada umumnya, kegiatan dalam kelompok tidak muncul secara acak. Setiap kelompok memiliki suatu pandangan tentang perilaku mana yang dianggap pantas untuk dijalankan para anggotanya, dan norma-norma ini mengarahkan interaksi kelompok.

Norma muncul melalui proses interaksi yang perlahan-lahan di antara anggota kelompok. Pada saat seseorang berprilaku tertentu pihak lain menilai kepantasan atau ketidakpantasan perilaku tersebut, atau menyarankan perilaku alternatif (langsung atau tidak langsung). Norma terbetnuk dari proses akumulatif interaksi kelompok. Jadi, ketika seseorang masuk ke dalam sebuah kelompok, perlahan-lahan akan terbentuk norma, yaitu norma kelompok.

2.      Ciri-ciri Kelompok Sosial
a.      Merupakan satuan yang nyata dan dapat dibedakan dari kesatuan manusia yang lain.
b.      Memiliki struktur sosial, yang setiap anggotanya memiliki status dan peran tertentu.
c.       Memiliki norma-norma yang mengatur di antara hubungan para anggotanya.
d.      Memiliki kepentingan bersama
e.      Adanya interaksi dan komunikasi diantara para anggotanya.
3.      Dasar Pembentukan Kelompok Sosial
a.      Faktor kepentingan yang sama (Common Interest)
b.      Faktor darah / keturunan yang sama (common in cestry)
c.       Faktor geografis
d.      Faktor daerah asal yang sama
4.      Klasifikasi Kelompok Sosial
A.      Klasisikasi menurut cara terbentuknya
a.      Kelompok semu, terbentuk secara spontan
Ciri-ciri kelompok semu :
a)        Tidak direncanakan
b)        Tidak terorganisir
c)        Tidak ada interaksi secara terus menerus
d)        Tidak ada kesadaran berkelompok
e)        Kehadirannya tidak konstan
Kelompok semu dibagi menjadi :
1)        Crowd (kerukunan)
2)        Publik
3)        Massa
Crowd, dibagi menjadi :
a)      Formal audiency / pendengar formal
Ex: orang-orang mendengarkan khotbah Orang-orang nonton di bioskop
b)      Planned expressive group Kerumunan yang tidak begitu mementingkan pusat perhatian tetapi mempunyai persamaan tujuan
c)      Inconvenient Causal Crowds Kerukunan yang sifatnya terlalu sementara tetapi ingin menggunakan fasilitas-fasilitas yang sama. Ex : orang antri tiket kereta api
d)      Panic Causal Crowds. Kerukunan orang-orang panic akan menyelamatkan diri dari bahaya.
e)      Spectator Causal Crowds. Kerukunan penonton atau orang-orang ingin melihat peristiwa tertentu.
f)       Ecting Low less Crowds.Kerukunan emosional, ex : orang demo
g)      Immoral low less crowds orang-orang tak bermoral
Ex : minum-minuman
Publik, sebagai kelompok semu mempunyai ciri-ciri hampir sama dengan massa, perbedaannya publik kemungkinan terbentuknya tidak pada suatu tempat yang sama. Terbentuknya publik karena ada perhatian yang disatukan oleh alat-alat komunikasi, seperti : radio, tv dan pengeras suara. Massa, merupakan kelompok semu yang memiliki ciri-ciri hamper sama dengan kerumunan, tetapi kemungkinan terbentuknya disengaja dan direncanakan. Ex : mendatangi gedung DPR dengan persiapan sehingga tidak bersifat spontan.
b.      Kelompok Nyata, mempunyai beberapa ciri khusus sekalipun mempunyai berbagai macam bentuk, kelompok nyata mempunyai 1 ciri yang sama, yaitu kehadirannya selalu konstan.
Jenis Kelompok Nyata :
1)      Kelompok Statistical Group
Kelompok statistic biasanya terbentuk karena dijadikan sasaran penelitian oleh ahli-ahli ststistik untuk kepentingan penelitian.
Ciri-ciri kelompok statistik :
1.        Tidak direncanakan, tetapi bukan berarti sangat mendadak melainkan sudah terbentuk dengan sendirinya.
2.        Tidak terorganisir
3.        Tidak ada interaksi terus menerus
4.        Tidak ada kesadaran berkelompok
5.        Kehadirannya konstan
2)      Societal Group / Kelompok Kemasyarakatan. Kelompok societal memiliki kesadaran akan kesamaan jenis, seperti jenis kelamin, warna kulit, kesatuan tempat tinggal, tetapi belum ada kontak dan komunikasi di antara anggota dan tidak terlihat dalam organisasi.
3)      Kelompok sosial / Sosial groups. Para pengamat sosial sering menyamakan antara kelompok sosial dengan masyarakat dalam arti khusus. Kelompok sosial terbentuk karena adanya unsur-unsur yang sama seperti tempat tinggal, pekerjaan, kedudukan, atau kegemaran yang sama. Kelompok sosial memiliki anggota-anggota yang berinteraksi dan berkomunikasi secara terus menerus. Contoh : ketetanggaan, teman sepermainan, teman seperjuangan, kenalan, dan sebagainya.
4)      Kelompok asosiasi / associational group. Kelompok asosiasi adalah kelompok yang terorganisir dan memiliki struktur formal (kepengurusan).
Ciri-ciri kelompok asosiasi :
1.      Direncanakan
2.      Terorganisir
3.      ada interaksi terus menerus
4.      ada kesadaran kelompok
5.      kehadirannya konstan
Klasifikasi Kelompok Nyata
Klasifikasi menurut erat longgarnya ikatan antar anggota

a.  Gemeinschaft / paguyuban
Merupakan kelompok sosial yang anggota-anggotanya memiliki ikatan batin yang murni, bersifat alamiah dan kekal.
Ferdinand Thonies membagi menajdi 3 bagian :
ü  Gemeinschaff by blood
Paguyuban karena adanya ikatan darah Ex : trah, kerabat, klien
ü  Gemeinschaft of place
Paguyuban karena tempat tinggal berdekatan. Contoh : RT, RW, Pedukuhan, Pedesaan
ü  Gameinschaft of mind Paguyuban karena jiwa dan pikiran yang sama.
Contoh : kelompok pengajian, kelompok mahzab (Sekte)
 b.  Gesselschaft / patembangan
Merupakan ikatan lahir yang bersifat kokoh untuk waktu yang pendek, strukturnya bersifat mekanis dan sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka.
Contoh : ikatan antar pedagang, organisasi dalam sebuah pabrik.
http://1.bp.blogspot.com/__wKSIY9nq2Q/TLWcHWGKDcI/AAAAAAAAC7g/B047jLT2DpQ/s1600/perbedaan.gemeinshaft.jpg










B.   Klasifikasi Menurut Kualitas Hubungan Antar Anggota
a.      Kelompok Primer (Primary Group)
Merupakan suatu kelompok yang hubungan antar anggotanya saling kenal mengenal dan bersifat informal.Contoh : keluarga, kelompok sahabat, teman, teman sepermainan
b.      Kelompok Sekunder (secondary Group)
Merupakan hubungan antar anggotanya bersifat formal, impersonal dan didasarkan pada asas manfaat.
c.       Contoh : sekolah, PGRI

C.      Klasifikasi Menurut Pencapaian Tujuan
a.      Kelompok Formal
Merupakan kelompok yang memiliki peraturan-peraturan dan tugas dengan sengaja dibuat untuk mengatur hubungan antar anggotanya.
Contoh : Parpol, lembaga pendidikan
b.      Kelompok Informal
Merupakan kelompok sosial yang terbentuk karena pertemuan yang berulang-ulang dan memiliki kepentingan dan pengalaman yang sama.
Contoh : anggota OSIS
c.       Klasifikasi menurut pendapat K. Merthon
1.        Membership Group
Merupakan kelompok sosial yang setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Contoh : Anggota OSIS
2.        Reference Group
Merupakan kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan perilakunya sesuai dengan kelompok acuan tersebut.
Contoh : Anggota ABRI

D.     Klasifikasi menurut sudut pandang individu
a.      In Group.  Merupakan kelompok sosial tempat individu mengidentifikasikan diri.
b.      Out Group. Merupakan kelompok sosial yang menjadi lawan dari in group



  1. Syarat-syarat kelompok sosial
Menurut Robert K Merton
    • Memiliki pola interaksi
    • Pihak yang berinteraksi mendefinisikan dirinya sebagai anggota kelompok
    • Pihak yang berinteraksi di definisikan orang laoin sebagi anggota kelompok
Menurut Soerjono Soekarto
    • Adanya kesadaran sebagi anggota kelompok yang bersangkutan
    • Adanya hubungan timbale bali antara anggota dengan anggota yang lainnya dalam kelompok tersebut
    • Adanya faktor pengikat yang dimiliki bersama misalnya kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama , dll.
    • Memiliki struktur, kaidah, dan pola prilaku yang sama
    • Bersistem dan berproses.
  1. Tipe-tipe kelompok Sosial di klasifikasikan dari berbagai sudut
    • Besar kecilnya jumlah anggota
    • Derajat interaksi Sosial
    • Kepentingn dan wilayah
    • Berlangsungnya suatu kepentingan
    • Derajat organisasi
    • Kesadaran akan jenis, hubungan Sosial dan tujuan yang sama
7.      Jenis – Jenis Kelompok Sosial
    • In group : kelompok Sosial dimana individunya mengidentivikasikan dirinya
    • Out group : kelompok Sosial yang oleh individunya diartikan sebagai lawan in group
    • Kelompok primer (primary group) atau face to face group adalah kelompok Sosial yang paling sederhana, anggotanya salinh mnegenal dan ada kerjasama yang erat.
    • Kelompok sekunder (secondary group) adalah kelompok yang terdiri dari banyak orang.
    • Paguyuban (gemein schaft) : bentuk kehidupan bersama yang anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni bersifat alamiah dan kekal, dasar hubungan rasa cinta dan ras persatuan.
    • Patembayan (gesell schaft) ikatan lahir yangt bersifat pokok dan biasanya untuk jangka waktu pendek.
    • Formal group : kelompok yang punya aturan tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota untuk mengatur hubungan antar sesama .
    • Informal Group : tidak mempunyai struktur dan organisasi
Dalam  hubungan antar kelompok juga terdapat berbagai macam dimensi, diantaranya adalah dimensi demografi, dimensi sikap, dimensi institusi, dimensi garakan Sosial dan dimensi tipe utama hubungan antar kelompok. Banton mengumukakan bahwa terdapat berbagai kemungkinan pola hubungan antarkelompok ras. Diantaranya adalah alkulturasi , dominasi, paternalisasi, dan intergrasi.
  1. DESA KOTA
    • Desa
Desa adalah suatu wilaah yang masyarakatnya masih tradisional dan memiliki system pemerintahan terendah serta keasrian wilayah yang masih terjaga. Masyarakatnya masih kental dalam menjalankan adat istiadat setempat serta siatem kekerabatan yang  masih sangad dekat dan senang bergotong royong. Kehipupan masyarakatnya masih sederhana dan rata-rata pendidikan yang masih rendah serta mata pencarian masyarakatnya masih Homogen.
    • Kota
Kota adalah suatu wilaah yang masyarakatnya sudah modren dan memiliki system pemerintahan yang lebih jelas. Masyarakatnya sudah berpola pikir lebih luas serta cenderung idividulisme. Kehipupan masyarakatnya yang mulai kompleks dan rata-rata pendidikan sudah tinggi serta mata pencarian masyarakatnya sudah heterogen.
  1. Ciri-ciri masyartakat desa-kota
Desa
    • Menjunjung moral dan noerma-norma  yang berlaku.
    • Menjalankan adat istiadat dengan benar-benar
    • Pola hidup gotongroyong
    • Masih tradisional
    • Pendidikan masih rendah
    • Keadaan alam masih asri
    • Udara masih sejuk
    • Belum banyak bangunan mewah
    • Sarana dan prasarana masih kurang
Kota
    • Banyak bangunan mewah
    • Ransportasi lengkap
    • Tehnologi canggih
    • Sarana dan prasarana memadai
    • Mata pencarian beragam























Guru Bidang Studi
UUS SYAMSUL BAHRI, SE